ABSTRAK

 

Putra Hadiwibowo, 2007520007, Tinjauan Yuridis terhaap penerapan pasal 5 PBI No.7/6/PBI/2005 tentang informasi mengenai karakteristik produk bank syariah (stdi kasus deposito mudharabah di bank muamalat indonesia, tbk, Dessy Sunari, SH, MM, Akmal Yahya, SE, MH. 76 halaman.

Secara kelembagaan bank syariah pertama kali yang berdiri di Indonesia adalah Bank Muamalat Indonesia (BMI). Dengan sangat tegas, bahwa pada Pasal 1 ayat (20) dan ayat (22) seluruh proses hubungan hukum antara bank syariah dengan nasabahnya khususnya untuk produk deposito mudharabah harus dilaksanakan dengan dan berdasarkan akad (disebut juga kontrak) yang terikat dengan kaidah-kaidah yang telah diatur dalam hukum Islam. Salah satu syarat yang harus dipenuhi agar akad mudharabah adalah bahwa, hasil usaha dibagi sesuai dengan persetujuan dalam akad. Didalam praktiknya, syarat sebagaimana yang dimaksud sering dilanggar oleh pelaku perbankan syariah. Kurangnya informasi atas produk yang ditawarkan pihak perbankan kepada calon nasabah, sering memunculkan pertanyaan bagi nasabah. Nasabah merasa bahwa, apa yang mereka ketahui dari informasi petugas bank mengenai produk sepertinya tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan.  Dan sudah barang tentu masalah ini dapat berakibat kepada tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga ini. Adapn metode yang digunakan dalam penelitian ini normatif yaitu penelitian hukum yang menitik beratkan pada penelitian hukum kepustakaan. kesimpulan bahwa akad deposito mudharabah pada Bank Muamalat Indonesia Tbk berbentuk kontrak baku, mengakibatkan peran asas kebebasan berkontrak menjadi berkurang atau bahkan tidak dapat diwujudkan di dalam suatu perjanjian, sekalipun  perjanjian tersebut terjadi antara para pihak yang keduanya individu, sehingga tidak memenuhi asas al-Musawah (Persamaan atau kesetaraan), asas ini mengandung pengertian bahwa para pihak mempunyai kedudukan (bargaining position) yang sama. Dan 2. Pada dasarnya Bank Muamalat Indonesia sudah berusaha sebaik mungkin untuk menerapkan Pasal 5 peraturan bank Indonesia No. 7/6/PBI/2005 tentang Informasi Mengenai Karakteristik Produk Bank, namun dalam prakteknya ada beberapa hal yang belum di informasikan kepada calon nasabah, khususnya pada produk deposito mudharabah. Pihak bank Muamalat kurang menjelaskan secara rinci bagaimana proses perhitungan bagi hasil pada produk deposito mudharabah, pihak bank hanya memberitahukan presentase yang didapat oleh calon nasabah, seperti 50% untuk nasabah dan 50% untuk bank pada deposito mudharabah yang berjangka waktu 1 bulan. Bank Muamalat Indonesia agar menjelaskan secara terperinci butir-butir yang terdapat didalam akad, sehingga tidak mengakibatkan perbedaan persepsi terhadap apa yang terkandung didalam akad, dan juga seharusnya didalam akad tercantum mekanisme penyelesaian sengketa apabila terjadi konflik dikemudian hari. Mengenai Karakteristik Produk Bank, bank Muamalat sudah cukup baik, namun untuk masalah informasi mekanisme pembagian hasil harus lebih optimal lagi.